About US


Dagedubrag.com atau ‘Design As Generator’ team:

Martin L Katoppo, ST., MT.Ars, IAI lahir di Jakarta, 31 Oktober 1975.

Martin-DAG

Martin-DAG

Mendapat gelar Sarjana Arsitektur dari Universitas Kristen Indonesia pada tahun 1998 dan menyelesaikan program Magister Teknik Arsitektur di Institut Teknologi Bandung pada tahun 2001. Mungkin karena mencintai Arsitektur, kedua pendidikan diselesaikan sebagai yang terbaik. Setelah melalui pendidikan formal, Martin memulai praktik ber-arsitektur, namun entah kenapa selalu dirundung keresahan. Arsitektur yang disayanginya lebih melayani hanya kalangan tertentu secara eksklusif saja. Pada tahun 2005 diberi kesempatan untuk kembali ke dunia akademik untuk mengajar paruh waktu sebagai dosen di Jurusan Desain Interior, Fakultas Desain dan Teknik Perencanaan, Universitas Pelita Harapan. Sejak saat itu Martin mendedikasikan diri untuk mengajar dan belajar bersama mahasiswa/i-nya sembari tetapi berpraktik sedekat mungkin dengan idealismenya. Di masa ini jugalah Martin mulai melihat tanggung jawab desainer terhadap lingkungan serta mulai membawa kesadaran desain berkelanjutan kepada mahasiswa/i-nya, yang salah satunya adalah Phebe Valencia. Martin juga memiliki teman berdisksusi sesama alumni UKI yang juga menyuka persoalan desain berkelanjutan bahkan sekolah magister khusus untuk itu, Rakyan Tantular. Tahun 2006 menikah dengan Ruth E Oppusunggu, yang juga seorang arsitek. Ruth sangat berpengaruh kepada perkembangan pengetahuan Martin tentang Arsitektur dan semakin meyakinkan Martin bahwa arsitektur pada dasarnya adalah untuk semua. Sejak tahun 2010 hingga tahun pertengahan tahun 2013 Martin menjabat sebagai Ketua Jurusan Desain Interior di Universitas Pelita Harapan (UPH) selain berprofesi juga sebagai desainer profesional paruh waktu di RDA 200RumahBesi, konsultan desain arsitektur yang didirikan bersama Ruth.

Tahun 2010, Martin dan Ruth membangun hunian idaman mereka yang dinamai 200 Rumah Besi. Rumah ini berada di dalam kampung yang dikurung oleh kompleks perumahan elit. Karena maunya berkomunikasi secara kontekstual maka 200 Rumah Besi tampil tropis, kampung-(an) dan berniat berkelanjutan. Toh, karena itu 200 Rumah Besi bersanding mesra dengan masyarakat sekitarnya. Tak disangka tahun 2011 karya ini masuk nominasi IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) Awards 2011 tingkat Nasional kategori hunian < 200 m2. Walau masih kalah dengan starchitect Jakarta namun bagi Martin dan Ruth ini adalah sebuah penghargaan dan apresiasi yang luar biasa.

Martin cukup aktif dalam organisasi dan asosiasi profesi, sebagai Arsitek bersertifikasi Nasional tingkat Pratama yang dikeluarkan oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dan LPJK (Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi) serta masuk sebagai anggota dan pengurus Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) Jakarta Bidang Pendidikan dan Informasi periode 2011-2013. Martin juga aktif dan berusaha mengembangkan keilmuan desain dengan menulis, meneliti dan menjadi pembicara dalam berbagai forum seminar.

Sejak tahun 2010 juga, setelah 200 Rumah Besi dilahirkan dan mulai bertumbuh dan berinteraksi, Martin mulai berpikir tentang peran dirinya (sebagai arsitek) bagi masyarakat. Bersama Ruth mulai menulis tentang Membangun dan Menghuni (To Build and To Dwell) untuk kembali memaknai peran arsitek dan arsitktur (mungkin) kembali pada esensinya. Tulisan-tulisan ini disuarakan dalam berbagai forum seminar dan talkshow, hingga akhirnya pada tahun 2012 dalam forum International Conference Artepolis4 – creative connectivity and the making of place- living smart by design, yang diselenggarakan Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK), Institut Teknologi Bandung, Martin dan Ruth menyuarakan Design as Generator (DaG). Bayangkan desain sebagai sebuah generator, desain menggerakkan dan menjadi energi serta pencerah keluar untuk lingkungan sekitarnya. Dari tulisan, menjadi aksi, maka gagasan DaG ini berkembang mewujud menjadi sebuah situs penggerak yang dibuat, digagas dan dijalankan bersama Ruth, Phebe dan Rakyan. Bernama nasional dagedubrag (; akronim yang muncul dari DaG dan dipanjangkan dengan sukacita oleh putra pertama Martin dan Ruth, Branan) dan bernama internasional tetap Design as Generator, situs inilah yang saat ini anda baca dan terhubung menjadi cita-cita Martin dan rekan: ”membagikan ilmu desain praktis dan aplikatif dengan konsentrasi desain berkelanjutan dengan teknologi sederhana (low technology) utamanya pada kelompok masyarakat yang paling membutuhkan dan berharap bermuara pada penyebaran secara viral perubahan pada seluruh kelompok masyarakat”.

Ruth Euselfvita Oppusunggu, ST., MT lahir di Jakarta, 15 Agustus 1972.

Ruth-DAG

Ruth-DAG

Mendapat gelar Sarjana Arsitektur dari Universitas Trisakti pada tahun 1998 dan menyelesaikan program Magister Teknik Arsitektur di Institut Teknologi Bandung pada tahun 2001. Semenjak lulus dari kuliah Ruth wara-wiri di dunia praktik hingga tahun 2005 menjadi arsitek senior dalam sebuah perusahaan konsultan desain yang digagas bersama beberapa rekan. Mengerjakan proyek interior dan arsitektur memberikan Ruth pengalaman berharga untuk kemudian sejak tahun 2009 memperkerjakan dirinya sendiri (self employee) sebagai desainer yang juga terjun langsung di dalam proses pembangunannya. Bertemu dengan Martin L Katoppo pada tahun 1999 saat masih di bangku magister, berlanjut terus sampai sekarang berkolaborasi profesi arsitek hingga hidup sebagai istri dan Ibu dari 2 anak.

Soal menulis dan menjadi penulis adalah obsesi Ruth sejak dahulu, tampaknya ini karena darah sang ayah, H.A. Oppusunggu seorang penulis dan editor buku-buku Kristiani mengalir dalam diri Ruth. Oleh karena itu selain berprofesi aktif sebagai arsitek perencana dan pembangun, Ruth juga aktif menulis dalam jurnal maupun makalah dalam seminar Nasional dan Internasional yang biasanya tentang Arsitektur. Ruth juga aktif mengikuti kompetisi-kompetisi desain arsitektur.

Pada tahun 2010 Ruth menggagas R(uth)D(esign)A(ssociates) 200RumahBesi desain konsultan bersama sang suami. Nama RDA 200RumahBesi diambil dari nama hunian yang mereka wujudkan.

Ruth dan Martin membangun hunian idaman mereka yang berada di dalam kampung yang dikurung oleh kompleks perumahan elit. Karena maunya berkomunikasi secara kontekstual maka 200 Rumah Besi tampil tropis, kampung-(an) dan berniat berkelanjutan. Toh, karena itu 200 Rumah Besi bersanding mesra dengan masyarakat sekitarnya. Tak disangka tahun 2011 karya ini masuk nominasi IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) Awards 2011 tingkat Nasional kategori hunian < 200 m2. Walau masih kalah dengan starchitect Jakarta namun bagi Ruth dan Martin ini adalah sebuah penghargaan dan apresiasi yang luar biasa.

Peran Ruth dalam setiap kolaborasi desain bersama sang suami adalah sebagai pewujud ide dan gagasan pemikiran yang dituangkan ke dalam hasil desain mereka. Ruth juga yang mendetilkan dan menjaga kualitas hasil desain mereka dan yang terpenting Ruth juga yang ’memanusiakan’ – mengembalikan desain RDA 200RumahBesi pada interaksi esensi internal dan ekternal, alih-alih kembali menjadi desain yang eksklusif. Ruth memberikan pengaruh prkatis dan teoretis pada Martin untuk menggagas dan memaknai kembali peran arsitek dan arsitektur hingga pada tahun 2010 keduanya menulis tentang Membangun dan Menghuni (To Build and To Dwell). Tulisan-tulisan ini disuarakan dalam berbagai forum seminar dan talkshow, hingga akhirnya pada tahun 2012 dalam forum International Conference Artepolis4 – creative connectivity and the making of place- living smart by design, yang diselenggarakan Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK), Institut Teknologi Bandung, Ruth dan Martin menyuarakan Design as Generator (DaG). Bayangkan desain sebagai sebuah generator, desain menggerakkan dan menjadi energi serta pencerah keluar untuk lingkungan sekitarnya. Dari tulisan, menjadi aksi, maka gagasan DaG ini berkembang mewujud menjadi sebuah situs penggerak yang dibuat, digagas dan dijalankan bersamaMartin, Phebe dan Rakyan. Bernama nasional dagedubrag (; akronim yang muncul dari DaG dan dipanjangkan dengan sukacita oleh putra pertama Ruthdan Martin, Branan) dan bernama internasional tetap Design as Generator, situs inilah yang saat ini anda baca dan terhubung menjadi cita-cita Ruth dan rekan: ”membagikan ilmu desain praktis dan aplikatif dengan konsentrasi desain berkelanjutan dengan teknologi sederhana (low technology) utamanya pada kelompok masyarakat yang paling membutuhkan dan berharap bermuara pada penyebaran secara viral perubahan pada seluruh kelompok masyarakat”.

Phebe Valencia, SE., S.Sn., MA in Future Design lahir di Pekanbaru, 14 Februari 1982.

Phebe - DAG

Phebe – DAG

Mendapat gelar Sarjana Ekonomi, Jurusan Akuntasi, Fakultas Ekonomi, Universitas Pelita Harapan pada tahun 2004 tak membuat Phebe puas. Sesungguhnya passion Phebe ada dalam dunia desain. Maka setahun berikutnya Phebe mendaftar kembali di Jurusan Desain Interior, Fakultas Desain dan Teknik Perencanaan di universitas yang sama dan lulus serta mendapat gelar Sarjana Seni. Pada semester akhir di Jurusan Desain Interior Phebe mengenal pendekatan desain berkelanjutan melalui dosennya, Martin L Katoppo. Perkenalannya dengan model pendekatan desain ini berlanjut terus hingga saat Tugas Akhir, Phebe menulis skripsi ”Evaluasi Penerapan Prinsip-Prinsip Sustainable Design pada Arsitektur Vernakular” dengan studi kasus Rumah Tradisional Batak Toba.

Pada tahun 2010 Phebe memutuskan untuk menambah ilmu dan melanjutkan pendidikan Magister di School of Arts and Media, Teesside University, Middlesborough, North East of England, United Kingdom dalam program Master of Arts in Future Design. Phebe menyelesaikan tesis magister perencanaan berbasis desain berkelanjutan dan vernakular COB Residences di Middlesbrough pada tahun 2011. COB sendiri adalah material bangunan yang berasal dari campuran bahan-bahan alami seperti subsoil, clay, sand, gravel, straw dan lain-lain. Karena kecintaannya pada tanah airnya, setelah selesai Phebe segera kembali dan berpraktik desain bersama sang suami, Artventure Design Studio.

Tahun 2012 Phebe kembali ke almamaternya dan mulai mengajar di Jurusan Desain Interior yang utamanya pembelajaran dan pengajaran tentang pendekatan desain berkelanjutan. Semenjak kembali hingga sekarang Phebe aktif menulis dan berpartisipasi dalam seminar Nasional dan Internasional bertema desain berkelanjutan dan vernakular. Saat ini Phebe menjabat sebagai Kepala Jurusan Desain Interior, FDTP, UPH.

Pada tahun 2012 juga Phebe diajak oleh Martin dan rekan-rekan untuk berkolaborasi dalam Design as Generator (DaG). Bayangkan desain sebagai sebuah generator, desain menggerakkan dan menjadi energi serta pencerah keluar untuk lingkungan sekitarnya. DaG kemudian berkembang menjadi sebuah situs penggerak yang dibuat, digagas dan dijalankan bersama Martin, Ruth dan Rakyan. Bernama nasional dagedubrag (; akronim yang muncul dari DaG dan dipanjangkan dengan sukacita oleh putra pertama Martin dan Ruth, Branan) dan bernama internasional tetap Design as Generator, situs inilah yang saat ini anda baca dan terhubung menjadi cita-cita Phebe dan rekan: ”membagikan ilmu desain praktis dan aplikatif dengan konsentrasi desain berkelanjutan dengan teknologi sederhana (low technology) utamanya pada kelompok masyarakat yang paling membutuhkan dan berharap bermuara pada penyebaran secara viral perubahan pada seluruh kelompok masyarakat.

Rakyan Tantular, ST., M.Si. lahir di Jakarta, 06 Agustus 1971.

Rakyan-DAG

Rakyan – DAG

Mendapat gelar Sarjana Arsitektur dari Universitas Kristen Indonesia pada tahun 1997 dan menyelesaikan program Magister Studi Lingkungan di Universitas Indonesia dengan judul tesis ”Perubahan Kualitas Permukiman Kota Penyangga (Studi Kasus: Kota Depok) pada tahun 2003. Boleh dikatakan sejak awal perhatian Rakyan terhadap lingkungan sangat besar melihat kaitan dengan latar belakang pendidikan strata 1 Arsitektur dan profesi Arsitek. Rakyan sadar bahwa Arsitek dengan keilmuan Arsitektur-nya bisa menjadi pisau bermata dua saat diperhadapkan dengan kondisi lingkungan. Arsitektur bergerak dalam lingkup ruang lingkungan binaan (built environment) yang mau tak mau akan menggubah lingkungan alami-nya (natural environment). Dalam hal ini kapasitas Arsitek adalah meningkatkan kualitas lingkungan alami melalui perencanaan dan perancangan lingkungan binaannya atau justru sebaliknya: merusak. Faktanya justru biasanya yang terakhir yang terjadi. Hal ini dapat dilihat melalui studi penyumbang pemanasan global (global warming): industri konstruksi menelan dan menghabiskan 50% sumber daya alam, 40% energi, 16% penggunaan sumber air bersih dan menyumbangkan 35% emisi CO2 ke dalam tataran atmosfir bumi.

Inilah yang menjadi perhatian utama Rakyan, hingga akhirnya ia memilih untuk mempelajari dan mengkaji lebih dalam permasalahan tentang lingkungan ini. Rakyan belajar langsung di bawah para pemikir, pemerhati dan pelaksana terbaik dalam hal tautan lingkungan binaan dan kelestarian lingkungan alami, sebut saja beberapa nama seperti Prof.Dr. Emil Salim dan Dr. Bian Poen (yang sekaligus merupakan dosen pembimbing pada jenjang S2). Melalui keseriusannya ini Rakyan adalah yang pertama dari ke-4 penggagas DAG (Design as Generator) yang benar-benar mendalami tentang tautan isu lingkungan binaan dalam konteks desain dan arsitektur dengan lingkungan alami. Sikap kritis ini akhirnya berbuah pada tahun 2008 melalui publikasi buku karangannya yang berjudul ”Rumah Irit Energi” terbitan Erlangga.

Selain itu pengalaman Rakyan di dunia maya juga tak kalah hebat. Sebut saja ia pernah terlibat sebagai project manager pembangunan Portal Situs: “Ekolabel-SML” milik Kementerian Negara Lingkungan Hidup bekerjasama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA), pembangunan Portal Situs “Perlindungan Lapisan Ozon” milik Kementerian Negara Lingkungan Hidup bekerjasama dengan United Nations Development Program (UNDP) dan pembangunan Portal Situs “Global Warming Campaign” milik Kementerian Negara Lingkungan Hidup bekerjasama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA). Rakyan juga pembangun dan pemilik Portal Situs www.ibudananak.com dan beberapa situs lainnya.

Rakyan dan Martin berasal dari universitas dan program studi yang sama, FT Arsitektur UKI. Di sanalah keduanya bertemu dan karena memiliki kesenangan untuk berdiskusi kritis, keduanya menjadi teman akrab hingga saat ini. Persahabatan ini semakin erat setelah mengetahui kesamaan minat dalam desain berkelanjutan (sustainable design). Sejak tahun 2011 keduanya bersama salah seorang rekan sudah membicarakan untuk membangun dan mengembangkan portal desain, namun baru pada awal tahun 2013 saat Martin dan Ruth membagi gagasan DaG (Design as Generator) pada Rakyan, pembicaraan tersebut berujung pada perwujudan pengembangan sebuah situs yang memang merupakan keahlian Rakyan.

Bayangkan desain sebagai sebuah generator, desain menggerakkan dan menjadi energi serta pencerah keluar untuk lingkungan sekitarnya. Dari tulisan, menjadi aksi, maka gagasan DaG ini berkembang mewujud menjadi sebuah situs penggerak yang dibuat, digagas dan dijalankan bersama Martin, Ruth, dan Phebe. Bernama nasional dagedubrag (; akronim yang muncul dari DaG dan dipanjangkan dengan sukacita oleh putra pertama Martin dan Ruth, Branan) dan bernama internasional tetap Design as Generator, situs inilah yang saat ini anda baca dan terhubung menjadi cita-cita Rakyan dan rekan: ”membagikan ilmu desain praktis dan aplikatif dengan konsentrasi desain berkelanjutan dengan teknologi sederhana (low technology) utamanya pada kelompok masyarakat yang paling membutuhkan dan berharap bermuara pada penyebaran secara viral perubahan pada seluruh kelompok masyarakat.

Ade Maradona, S.Sn. lahir pada 15 September 1979.

AdeMaradona

Dona – DAG

Latar belakang pendidikan arsitektur dan desain grafis memperkaya Ade Maradona dalam meniti karier dan memperluas kecintaannya terhadap desain dan organisasi. Setelah sempat mengecap pendidikan arsitektur selama satu tahun di Universitas Trisakti, Dona berputar haluan dan mendapatkan gelar strata satu dari Desain Komunikasi Visual, Fakultas Desain dan Perencanaan, Universitas Pelita Harapan pada tahun 2008.

Karakteristik desain Dona yang sederhana dan mengena berkembang sejak Dona mulai berkarya sebagai peserta magang pada Thinking Room, studio desain di Kemang (2007). Dona terus berkarya menghadirkan desain yang mudah dimengerti dan efektif baik ketika Dona sebagai pekerja paruh waktu di Lippo Karawaci (2003 – 2008), desainer grafis junior pada Image Creator (2008 – 2009), art director pada Pencil Graphic (2009 – 2010), dan ketika bekerja di studionya sendiri Art Venture sebagai art director (2010 – sekarang). Oh ya, diawal kariernya, Dona juga ikut pameran menarik berjudul “Senangnya Jadi Om” pada Art’s Exhibition Matahari di Galeri Nasional (2007).

Pria bergitar ini juga sangat aktif dalam organisasi dan telah menjajagi berbagai posisi strata organisasi. Dona memulainya dari lingkungan gereja sebagai ketua pemuda di Lippo Karawaci (1999 – 2002), kemudian ke bagian publikasi BOOM (Bangkit Orang-Orang Muda) Tangerang (2000), lalu ke bagian sekretariat PAM (Persatuan Anak Muda) Tangerang (2002), dan menjadi wakil ketua (2004 – 2006) dan consellor (2006 – 2008) pada Himpunan Mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Pelita Harapan. Kini Dona pun masih meneruskan kegemarannya berorganisasi sebagai kepala departemen musik di gerejanya (2008 – sekarang).

Kini, pria yang fasih menuangkan karya-karyanya ke dalam format komputer grafis, video dan 3D, sangat menikmati kesibukannya dalam dunia grafis, arsitektur, desain interior bersama Art Venture, mengajar di Jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Harapan, dan mengadakan perubahan lewat desain bersama Design As Generator.  

contact us: info_dag@dagedubrag.org

DAG Faounder n Audio -Video Team

DAG Faounder n Audio -Video Team

 

 

 

 

 

 

 

 

For mamber only: http://goo.gl/4qhdiX (admin page)